Sout East Asia Association, a stagnancy


10.57 pm, Yogyakarta

I have told you my view about ASEAN. Despite all the facts, I think ASEAN will never become such an effective organization, as long as, they can not solve their basic problems.


Such as: economic gap and problem of trust, caused by their various political system background (remember ASEAN history as colonial's region), in particular, countries in Indochina region: Cambodia, Myanmar (Burma), Laos, Vietnam with other member in ASEAN.

Indonesia, I think, should start to consider seriously leaving ASEAN and stop its mental dependence to ASEAN. The mentality that says Indonesia needs ASEAN to show how influential Indonesia is in South East Asia region.

Are we? Are we influential? If its true, what is the result? Is there any ASEAN contribution to the international world, (okay, except TAC), Does ASEAN seen and weighted in the international society?

Beside ASEAN diplomats, how many people remember Asean Regional Forum? The only forum outside six lateral party talks, where North Korea, Japan, United States sit together in a rather peaceful atmosphere. No one. Because there has never an applicable, concrete, results appeared from such ambitious forum.

This mentality -- Indonesia is the biggest country in southeast Asia -- is not healthy, even we know that is the facts; We have to remember that we are Giant in the group of ants.


ASEAN is dull. I do hope Indonesia does not linger in that kind of stagnancy.

Anyway, this is just a thought.

Next we will talk about Australia, our lovely neighbor.
If you're not bored.
But, its likely, I bore myself with this topic, he he.
or perhaps, i will write about something else, something to make you frown. Love, maybe? :)
Good night, dear.. see you in Jakarta.



6 comments:

ijonk said...

Hampir sebagian besar anggota ASEAN mempunyai ketergantungan kepada pihak barat.entah itu iptek,ekonomi,pertahanan atau yang lainnya..
sedangkan pihak barat menggunakan ketergantungan tersebut sbg cara membangun uni polar world, yang katanya ‘sistem politik dan peradaban yang sama akan menimbulkan pola kohesi yang kondusif..
kemasan penyeragaman tersebut ada pada konsep globalisasi,
dgn isunya demokrasi,hak azasi,lingkungan hidup yang di sebut sebagai nilai yang sangat universal.
Tapi isu global ini sering dipakai untuk mewujudkan ambisi,mendemonstrasikan superior, memenangkan kepentingan,merendahkan bangsa lain, dan untuk merealisasikan uni polar world di bawah supremasi barat..
Nah kenapa ASEAN macet,…?
Suka atau tidak suka, kebijakan dan arah politik ASEAN (yang anggotanya banyak bergantung pada barat) harus bisa mengakomodasi globalisasi tersebut, sedangkan di ASEAN sendiri, konfliknya bertingkat ;
yang pertama konflik antar anggota
seperti indonesia-malaysia dengan kepulauan ambalat, yang disadari atau tidak membuat atmospir persaudaraan agak memanas.;
yang kedua masalah dalam negeri masing2 anggotanya,
seperti di Indonesia banyak kelompok yang yang menilai bahwa norma dan kepentingan universal yang terkandung dalam isu global itu berbasis liberalisme barat yang dalam beberapa hal bertentangan dengan nilai nasional atau kelompok dari suatu bangsa, dan juga ada yang berpikir bahwa pemaksaan kehendak adalah bukan ‘konsep dasar’ dari hak azasi dan demokrasi.
Jadi ASEAN seperti sedang ada dipintu kandang, mau masuk ada macan sama anak macan, diluar ada singa..
Tapi katanya,.. bangsa yang identitasnya jelas dan kuat, dan ketergantungannya terhadap barat tidak parah, bisa mengatasi masalah ini, seperti iran..(cool..)
Tapi ini Cuma su’udzon.. mudah2an gak gini…
Bu ntar abis Australia, critain Iran yah..
sori ga pake bahasa inggris, klamaan mikirnya gw.. hahaha
kpanjangan lagi yah..?

the writer said...

Wah iyonk,
makasih banget, komentarnya. Memang betul ketergantungan ASEAN sama dunia barat itu tidak terelakkan, dan konflik baik di dalam masing2 negara2 ASEAN yang stages-nya beda2 ada yang udah demokarasi banget (phils), transisi demokrasi (indonesia, thailand), sosialis-totalitarian (CMLV), atau macam Malaysia dan Singapore, yang nggak demokratis tapi kaya (pinter ngelola ekonomi), jadi penduduknya pinter dan pragmatis (liat deh anak2 singapore, atau generasi muda singapore, bisnis banget karakternya mikirnya untung-rugi, untung-rugi he he..nggak papa sih tapi jadi kadang2 menyebalkan) yang menyebabkan kohesivitasnya antar ASEAN itu jadi susah juga. NAh, menurut ku ketergantungan sama barat itu sebenarnya gk bisa dijadiin alasan kuat buat ASEAN gk jalan, sebab liat aja Afrika, apa mereka gk lebih miskin dari ASEAN dan lebih tergantung lagi sama barat. Bedanya, mungkin latar belakang politik, ekonomi mereka hampir sama, maksudnya sama2 miskin he he..jadi mereka gampang bersatunya, lebih maju, lebih kohesive. Tapi aku juga mikir ya ijonk,setelah nulis ini ASEAN ini kayanya emang harus ada, mau gk mau. Walaupun jalannya lambat, tapi dari pada gk ada. Daripada dicaplok sama so called, para Economic Hit Man (eh, udah ya?) minimal kita ada usaha untuk memperkuat intern region kita sendiri, yah..dari pada gk ada gitu loh..

Philips J Vermonte said...

ASEAN is progressing, but has been very slooowwww....:-)

btw, nice blog!

the writer said...

thanks mas. BTW, pertanyaanku di blog mu belum di jawab..

philips vermonte said...

waduh,sorry, belum di jawab ya.......nanti aku periksa lagi deh blog nya.

gratist said...

wah baru tau nih blog baru mu sis... selamat ya..
ya memang pada akhirnya harus kembali pada keadaan dalam negeri.. gimana mau influential kalau dengan singapur aja masih banyak ketergantungan.
stop juga ilusi 'big brother' sebagai patron ASEAN ... jadi belenggu bukannya advantage. :D